Selidiki : Markus 8:31-38
Pembicaraan ini adalah kelanjutan dari
pembicaraan tentang siapakah Yesus di Kaisarea Filipi (ay. 27-30). Secara jelas
para murid terutama Petrus telah mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Arti
Mesias itu sendiri adalah yang diurapi. Dalam konteks ini, Yesus sebagai yang
diurapi HARUS [artinya patut; wajib; mesti (KBBI)] menanggung banyak
penderitaan dan ditolak, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (ay. 31).
Nubuat Yesus tentang diri-Nya tidak
berakhir dalam kegagalan karena Dia hidup bukan untuk kesenangan pribadi tapi
untuk kesenangan Allah, sehingga tolak ukur keberhasilan adalah ketika Dia telah
dapat melaksanakan apa yang Allah inginkan. Dan Yesus paham sekali kehedak
Allah yang ditaruh di dalam diri-Nya. Mati di kayu salib bukanlah kegagalan
dari misi-Nya karena Kristus bukanlah pihak yang ditaklukan melainkan seorang
pemenang.
Namun, hal ini belum selaras dengan konsep
para murid mengenai Mesias (ay.32). Pandangan masyarakat di zaman itu, Mesias
datang dari raja duniawi dengan kemegahannya menyelamatkan bangsa Israel dari
segala perbudakan dan ketidakadilan. Ketika para murid melihat Yesus, mereka
percaya bahwa Yesus-lah Mesias walaupun keadaan Yesus rendah dan miskin.
Sebagai Guru, Ia dapat mengajar (dan membuat yang mendengarkan merasa takjub
Mat 13:54) bahkan membuat mukjizat. Hal-hal tersebut membuat para murid percaya
bahwa Yesus adalah Mesias walau dalam keadaan rendah dan miskin. Mereka percaya
bahwa Yesus akan segera tampil dalam kebesaran, keagungan untuk memulihkan Kerajaan
Israel (re : penyelamatan secara politis).
Bila dilihat dari sikap Petrus yang
langsung menarik Yesus dan berkata "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal
itu!" (Mat 16:22) dapat ditafsirkan bahwa sesungguhnya Petrus begitu
mengasihi Yesus hanya saja dia belum siap untuk menanggung konsekuensi yang
sama dengan Yesus. Petrus tidak tahu bahwa Kapten Keselamatan kita harus
disempurnakan melalui penderitaan sehingga dapat membawa banyak jiwa ke dalam
kemuliaan. Atas tindakan Petrus tersebut, Yesus menegur Petrus bahkan juga para
murid yang lain. Ketegasan Yesus menunjukkan keyakinan-Nya bahwa yang terjadi
biarlah kehendak Bapa sajalah. Dari sikap Yesus kepada Petrus maka dapat
kita simpulkan bahwa Kristus melihat
kesalahan dalam perkataan dan perbuatan kita yang bahkan tidak kita sadari.
Ada
tiga syarat yarat utama dalam mengikut Yesus (ay. 34) antara lain :
1.
Menyangkal diri
Berarti
pengendalian diri dan mau jujur kalau kita dipanggil bukan untuk keinginan
duniawi melainkan untuk keinginan Tuhan. Atau dalam kata lain adalah melawan
keinginan daging.
2. Memikul salib
Berarti
harus siap menerima
konsekuensi yang ada.
3.
Mengikut Yesus
Dalam
hal ini, sebagai pengikut Kristus terlebih dahulu kita harus mematikan manusia
lama kita. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan,
supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi
kepada dosa (Roma 6:6).
Selain
itu, prinsip yang tak kalah penting untuk mendasari hidup sebagai murid Kristus terdapat dalam ay. 35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan
karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
NYAWA = JIWA = HIDUP ~> HIDUP DI DUNIA
Barangsiapa
mengutamakan kehidupan duniawi akan kehilangan kehidupan surgawi. Barangsiapa
kehilangan kehidupan duniawi demi Kristus, ia akan memperoleh kehidupan
surgawi. Mengutamakan kehidupan duniawi sama artinya membiarkan hidup dipimpin
keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Dan mereka yang hidup
dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Roma 8:8).
Pengakuan iman harusdisertai dengan pembaharuan hidup. Bila
ditelaah lebih dalam maka kita akan semakin sadar bahwa mengikut Yesus itu
bukan perkara yang mudah, apalagi untuk mempertahankan iman kepercayaan kita di
tengah-tengah dunia yang seperti mengabaikan-Nya. Tapi janganlah kuatir, ada
tertulis “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b) Allah
pasti tidak akan membiarkan kita menghadapi pencobaan sendirian.
Kehidupan
itu manis dan kematian itu pahit, tetapi kematian kekal lebih pahit dan
kehidupan kekal lebih manis. –Uskup Hooper.
Thank's
BalasHapus